Membuka Hati

Bacaan: Kisah Para Rasul 16:13-18

Tema   : Membuka Hati

 

Tujuan Pembelajaran:

1.       Anak dan Remaja dapat belajar bahwa Membuka hati berarti mengenali dan mengelola perasaan, membangun empati, dan belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, kebaikan, dan kesabaran.

2.       Anak dan Remaja dapat memahami bahwa belajar tentang membuka hati ini juga berfokus pada pengembangan karakter, yaitu kualitas yang membentuk bagaimana seseorang bertindak dan berinteraksi dengan orang lain.

 

Pendalaman Teks,Konteks dan Teologis:

            Membuka hati tidaklah mudah, terlebih ketika kita merasa apa yang kita miliki saat ini sudah cukup bagi kita. Padahal karya Tuhan di dalam hidup kita tidak hanya berhenti pada saat ini. Ada perluasan dan perkembangan menuju rancangan besar Tuhan dalam hidup kita untuk mewartakan karya keselamatan-Nya kepada seluruh ciptaan. Oleh karena itu mari kita belajar dari seorang perempuan bernama Lidia. Lidia adalah salah satu tokoh yang cukup populer dalam kisah pelayanan Rasul Paulus. Pada ayat 13 dikatakan bahwa Paulus dan kawan-kawannya pergi ke tempat sembahyang. Perlu kita ketahui bahwa pada zaman dahulu, Kalau lebih dari 10 orang, maka orang Yahudi membuat Synagoge. Tetapi, kalau kurang dari 10 orang, maka mereka membuat “tempat sembahyang” yang biasanya dibuat di tepi sungai untuk memudah mereka mendapatkan air untuk upacara pembahsuhan yang mereka lakukan. Lalu Disebutkan dalam Kisah Para Rasul 16:14, Lidia adalah seorang penjual kain ungu dari Tiatira. Dapat dikatakan bahwa dia adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Mengapa? Kain ungu merupakan komoditas yang pada saat itu cukup mahal karena berkaitan dengan pewarna ungu yang digunakan termasuk langka. Oleh karena itu pekerjaan Lidia dalam usaha kain ungu ini terbilang sukses. Di dalam Kisah Para Rasul tidak disebutkan siapa suami dari Lidia. Besar kemungkinan bahwa Lidia adalah seorang janda/tidak menikah. Hal ini menarik karena konteks pada zaman itu pola pikir masyarakat patriarki sangat kuat, di mana laki-laki yang berperan utama. Lidia bukanlah tokoh yang sembarangan karena dia memiliki pengaruh yang cukup kuat, terlebih dalam aspek ekonomi. Dalam posisinya yang demikian, Lidia bisa saja merasa bahwa segala sesuatunya baik-baik saja dan tidak perlu ada yang berubah karena semua sudah terpenuhi. Akan tetapi dalam kisah ini, Lidia justru menjadi pribadi yang mau mendengar dan membuka hati. Dia terbuka pada apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus, yang tentunya adalah tentang firman Tuhan. Dengan terbukanya hati Lidia yang dia tunjukkan melalui kesediaan untuk mendengarkan, pelayanan Rasul Paulus semakin berkembang. Hati Lidia yang terbuka semata-mata bukan hanya karena upaya pekabaran dari Paulus saja, akan tetapi ada pekerjaan Tuhan di dalamnya.

             Lidia bukanlah seorang Yahudi, akan tetapi sepertinya dia telah mendengar terlebih dahulu mengenai ajaran-ajaran tentang firman Tuhan, sehingga dia juga turut berkumpul untuk ikut beribadah kepada Allah. Pada saat pelayanan firman oleh Paulus, kuasa Tuhan bekerja dalam hati Lidia sehingga di sinilah momen puncak dari keterbukaan hatinya. Dia kini dapat memahami dan mendengarkan dengan sungguh sungguh tentang Firman Tuhan. Lidia tidak sekadar menerima dan mendengarkan saja, tetapi juga langsung melakukannya. Setelah Lidia dan seluruh rumahnya memberikan diri untuk dibaptis, dia melakukan firman Tuhan dengan menunjukkan keramahan kepada rombongan Paulus. Dia dengan senang hati mendukung karya pelayanan pekabaran Injil dengan melakukan apa yang bisa dia lakukan, yaitu dengan menyediakan tempat bagi Paulus dan rombongannya. Dia bahkan mengatakan inilah bukti bahwa dia telah benar-benar percaya, yaitu dengan melakukan sesuatu yang nyata. Undangan Lidia kepada Paulus untuk singgah di rumahnya merupakan wujud karya Roh yang telah bekerja dalam dirinya. Lidia sedang menunjukkan keramahan dan dukungannya pada upaya pekabaran Injil. Lidia tidak menunggu waktu untuk turut berperan, pada saat itu juga ia langsung melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk turut berkarya, yakni melalui keramahan. Bahkan melalui Lidia, salah seorang hamba perempuannya yang mempunyai roh tenung akhirnya dibebaskan dan menerima jalan keselamatan (bdk. Kis.16:16-34). Membuka hati adalah kunci dari karya pemulihan dan pembaharuan hidup. Keterbukaan hati Lidia membawanya pada pemberdayaan hidup dan karyanya bagi pewartaan Injil melalui dirinya. Seorang perempuan, pengusaha, dan bukan orang Yahudi tidak membatasi Lidia untuk menjadi sarana Tuhan menyatakan rancangan kebaikan pada umat manusia. Hidup Lidia bahkan semakin berdaya dan bermakna lebih lagi dari sebelumnya.